Beranda Berita Belajar dari WeWork yang mengalami “WeCrashed”

Belajar dari WeWork yang mengalami “WeCrashed”

WeWork yang kita kenal sudah tidak sama lagi. Sempat bernilai $47 miliar (Rp 730 triliun) pada 6 November, perusahaan co-working global ini mengajukan Bab 11 di New Jersey, AS sebelum berakhir tahun 2023.

CEO YANG DIKAGUMI MENJADI YANG PALING DIBENCI DI AMERIKA.

Gagasan tentang area kerja kolaboratif, nyaman dengan bonus tekonologi yang mutakhir terdengar keren dan membebaskan pekerja dari kantor yang “bosan” pada umumnya.

Impian inilah yang WeWork jual kepada orang.

Adam Neumann.

Pada puncaknya, sang CEO perusahaan, Adam Neumann membawa WeWork bernilai $47 miliar (Rp734 T) dan berencana untuk melalukan IPO pada September 2019.

Namun semua berjalan baik sampai orang melihat dengan seksama, dan dalam sekejap Neumann yang dulu dikagumi menjadi tokoh yang paling dibenci di Amerika.

AWAL MULA WEWORK.

Dengan munculnya banyak startup baru, co-working space semakin populer sejak tahun 2005. Memanfaatkan gelombang ini, lahirlah WeWork pada tahun 2010.

Menggambarkan diri sebagai perusahaan “teknologi” yang menggunakan teknologi data analisis untuk meningkatkan efisiensi, menggunakan ruang, hingga di mana harus ekspansi, WeWork merupakan startup yang sangat diminati.

Di mana tahun 2017, Masayoshi Son, CEO Softbank memutuskan berinvestasi $4.4 miliar (Rp68.7 T) hanya setelah 12 menit bertemu Neumann.

BERTUMBUHNYA WEWORK.

Menerima investasi hingga $14.2 miliar (Rp221.8 T) dari investor besar seperti Goldman Sachs, JP Morgan, hingga Softbank. WeWork membangun hingga 847 lokasi di 123 kota di seluruh dunia.

Salah satu lokasi WeWork di Jongno Tower, Korea selatan.

Memiliki impian yang lebih besar daripada sekedar menyewa ruangan kantor, Adam juga berekspansi ke WeLive, yang menyewakan tempat tinggal, hingga WeGrow yang disebut “sekolah kewirausahaan” untuk anak muda.

Namun semua “keberhasilan” ini mulai menimbulkan keraguan.

TIMBULNYA KECURIGAAN.

Walaupun sudah tumbuh menjadi raksasa, WeWork belum menghasilkan keuntungan sedikitpun.

Meskipun perusahaan teknologi sudah lazim membutuhkan waktu yang lama, kenyataannya WEWORK HANYALAH TUAN TANAH yang tidak memiliki biaya pertumbuhan yang rendah dan efek jaringan layaknya perusahaan teknologi lainnya.

WeWork menyebut dirinya sebagai perusahaan teknologi yang menggunakan “teknologi dan data” untuk membuat keputusan, tapi kenyataannya itulah yang dilakukan kebanyakan perusahaan yang ada saat ini.

KECURIGAAN YANG TERBUKTI.

Kecurigaan menjadi jelas ketika WeWork bersiap untuk melakukan IPO pada September 2019.

Dalam proses IPO, perusahaan diharuskan untuk membuka berbagai informasi untuk investor.

Di sinilah satu per satu laporan tentang keuangan perusahaan seperti kerugian $1.6 miliar dari pendapatan $1.8 miliar hingga laporan tentang karakter Neumann pun mulai menjadi berita utama.

MASALAH DENGAN ADAM NEUMANN.

Seperti perusahaan teknologi lainnya, WeWork memiliki struktur saham multikelas yang memberi Neumann kekuatan lebih dibanding pemegang saham lain. Ini membebaskan Neumann untuk dapat membuat keputusan yang membuat investor skeptis seperti:

Mempekerjakan teman dekat dan keluarganya pada posisi eksekutif.

• Meminjam jutaan dolar dengan bunga kecil atau bahkan tanpa bunga.

•  Membeli properti secara pribadi yang kemudian disewakan kepada WeWork.

• Mematenkan merek “We” atas nama pribadi dan membuat perusahaan membayar $5.9 juta untuk biaya lisensi.

• Membeli jet perusahaan senilai $60 juta, meskipun perusahaan rugi miliaran dolar.

Dalam sekejap WeWork runtuh.

Valuasi turun hingga 80% dan semua pujian untuk CEO, Adam Neumann berubah menjadi cacian.

IPO WeWork ditunda tanpa batas waktu, Neumann terpaksa keluar dari perusahaan dan harus mengundurkan diri sebagai CEO.

Namun ironisnya, walaupun perilaku eksentriknya menjadi salah satu penyebab keruntuhan, Neumann meninggalkan perusahaan dengan imbalan $1.7 miliar (Rp26.5 T) untuk sebagian besar sahamnya, sementara ribuan orang mengalami kerugian dan kehilangan pekerjaan.

Membuat Neumann disebut sebagai “Orang paling dibenci di Amerika”. – The Sydney Morning Herald.

Pelajaran yang Dapat Diambil:

✓ Pentingnya Memiliki Model Bisnis yang Berkelanjutan: Sebuah perusahaan harus memiliki model bisnis yang menghasilkan keuntungan dan mampu bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit.

✓ Tata Kelola Perusahaan yang Baik: Penting untuk memiliki struktur tata kelola yang kuat dengan kontrol dan akuntabilitas yang jelas.

✓ Transparansi dan Integritas: Perusahaan harus transparan dalam praktik akuntansi dan keuangannya, dan menghindari menyesatkan para investor.

✓ Kerendahan Hati dan Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab: Para pemimpin perusahaan harus memiliki kerendahan hati dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Kebangkitan WeWork:

Meskipun mengalami keruntuhan, WeWork berhasil bangkit kembali melalui restrukturisasi dan kepemimpinan baru. Saat ini, perusahaan fokus pada profitabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

WeWork kembali bangkit dari keruntuhan.

Perlu direnungkan:

Kisah WeWork merupakan contoh penting tentang pentingnya membangun perusahaan yang kokoh dengan model bisnis yang berkelanjutan, tata kelola yang baik, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Para pengusaha dan investor dapat belajar dari kesalahan WeWork untuk membangun bisnis yang lebih sukses dan tahan lama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini